MASALAH TERKAIT BPJS 2014

Lima masalah terkait BPJS dengan sistem informasi di pihak peserta, pengelola, PPK I II III dan usulan pemecahan masalahannya.

 

è Permasalahan:

1.      Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengaudit program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, hasilnya terlihat pada data peserta dan obat yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Kemenkes merevisi beberapa regulasi yang memang malah menghambat pelayanan seperti merevisi aturan jenis penyakit yang bisa langsung ke RS.

2.      Ketidakjelasan tentang status kepesertaan à Proses registrasi bagi peserta yang terkesan sulit karena disetiap kabupaten tidak bisa bisa diakses padahal sudah memiliki token. Proses mutasi dari peserta askes dan peserta JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Jamsostek) ke BPJS Kesehatan, selama ini banyak permasalahan terkait peralihaan data. Peserta JPK Jamsostek harus mendaftar ulang ke BPJS Kesehatan, padahal seharusnya otomatis. Transformasi JPK Jamsostek ke BPJS Kesehatan meninggalkan peserta JPK Pekerja Mandiri yang tidak otomatis menjadi peserta BPJS Kesehatan. Padahal sesuai UU 24/2011 tentang BPJS sangat jelas dinyatakan peserta JPK Jamsostek otomatis menjadi peserta BPJS Kesehatan.

3.      Validitas data kepesertaan juga masih belum sempurna. Kartu peserta belum terdistribusikan seluruhnya. Status kepesertaan gelandangan, pengemis, orang telantar, penderita kusta, penderita sakit jiwa, penghuni lembaga pemasyarakatan dan calon tahanan yang tidak jelas pertanggungjawabannya. BPJS juga belum punya lembaga yang mengurusi kepuasan peserta dan respon pengaduan masyarakat. “Sistem teknologi informasi BPJS belum berjalan dengan baik dan maksimal.

4.      Kurangnya sosialisasi tentang regulasi à hal regulasi para stakeholders dilihat belum paham betul regulasi Jaminan Kesehatan Nasional. Pedoman pelaksanaannya juga belum dijabarkan secara lengkap dan jelas.

5.      Belum optimalnya pelayanan à hasil evaluasi DJSN meliputi belum berjalan secara baik mekanisme rujukan, rujukan berjenjang, rujukan parsial dan rujukan balik, belum memadai kapasitas fasilitas kesehatan primer, belum optimal pelayanan kepada peserta, dan belum lengkap e-katalog 2014. Bagi peserta sebagian besar merasakan kurang puas akan pelayanan, seperti hak peserta askes dan jamsostek dikurangi terkait berbedanya obat yang dapat diklaim dari jamsostek ke BPJS. Tidak berlakunya jampersal di BPJS. Dalam hal manfaat, DJSN melihat Jaminan Sosial Kesehatan oleh BPJS justru berimbas pada penurunan manfaat yang dirasakan oleh peserta lama (seperti peserta Jamsostek dan Askes).

6.      Kekurangan sumberdaya manusia (SDM) seperti tenaga medis, perekam medis dengan coding INA-CBG’s, perekam medik dan dokter harus paham benar mengenai apa itu International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 9 ( ICD 9) dan ICD 10. Para perekam medik harus terampil dalam membuat klarifikasi penyakit dan tindakan sesuai dengan ICD 9 dan ICD 10 sistem BPJS dengan cepat dan tepat.

7.      Permasalahan masih didominasi ketidaksiapan pemerintah dan BPJS Kesehatan –sebelumnya bernama PT Askes (Persero) dalam menyelenggarakan jaminan sosial bagi masyarakat à Keterlambatan pembuatan regulasi operasional seperti Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, dan Peraturan Menteri Kesehatan berkontribusi, sehingga menimbulkan masalah di lapangan.

 

è Pemecahan masalahnya:

1.      Harus dibuat standar operasional pelayanan, misalnya pendataran peserta berapa lama, berapa lama follow up pengaduan peserta.

2.      Pendaftaran BPJS Kesehatan dilakukan di Puskesmas-Puskesmas atau rumah sakit-rumah sakit yang mudah diakses masyarakat.

3.      Master file data kepesertaan harus segera dibuat, distribusi kartu peserta dituntaskan dan segera berkoordinasi dengan Kemendagri untuk penggunaan Nomor Induk Kependudukan untuk kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional.

4.      Hal yang harus dibenahi tidak hanya aturan. Melainkan, masalah pengawasan terhadap pelaksanaan program JKN karena berbagai aturan program BPJS Kesehatan dibuat tergesa-gesa, sedangkan sosialisasi terhadap peraturan dinilai kurang yang hanya mengejar target pelaksanaan. Peraturan yang perlu ditambah hanya mekanisme pengawasan saja. Misalnya, orang yang darurat itu harus diatasi serta peraturan tanggungjawab Pemda dan pemerintah pusat yang sekarang pelayanan perlu dimaksimalkan saja.

5.      Penyelesaian petunjuk teknis, salah satunya penggunaan dana kapitasi. Karena otoritas tanggungjawab Kemenkes adalah bagaimana penggunaan hasil kapitasi dari puskesmas.

6.      Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan agar segera melakukan penyusunan pedoman pelayanan dan peninjauan ulang atas regulasi yang disharmoni.

7.      Dalam hal pelayanan, sebaiknya segera dilakukan penyusunan pedoman rujukan sosialisasi kepada fasilitas kesehatan, sekaligus melakukan pembaharuan data fasilitas kesehatan. Kemudian yang terpenting adalah, BPJS segera melakukan sosialisasi tentang adanya program Jaminan Kesehatan Nasional kepada seluruh masyarakat Indonesia.

8.      Hal yang perlu di evaluasi oleh pihak BPJS seperti (a) tarif INA-CBGs yang terlalu rendah pada beberapa bagian ilmu penyakit (b) belum adanya standar clinical pathway atau pedoman SOP dokter di rumah sakit (c) Masalah harga obat dan kepastian distribusi obat.

Advertisements

MANAJEMEN KEPERAWATAN

1.      Mengenai SBAR

a.       Tanggapan mengenai sbar terkait komunikasi dokter-perawat

è Keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena itu tujuan pelayanan perawatan merupakan salah satu bagian dari tujuan utama rumah sakit. Komunikasi yang efektif dalam lingkungan perawatan kesehatan membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan empati. Ini mencakup mengetahui kapan harus berbicara, apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya serta memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk memeriksa bahwa pesan telah diterima dengan benar. Meskipun digunakan setiap hari dalam situasi klinis, keterampilan komunikasi perlu dipelajari, dipraktekkan dan disempurnakan oleh semua perawat sehingga dapat berkomunikasi dengan jelas, singkat dan tepat. Untuk itu diperlukan pendekatan sistematik untuk memperbaiki komunikasi tersebut salah satunya dengan cara komunikasi teknik SBAR (situation, background, assessment, recommendation)

è Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. SBAR adalah alat komunikasi dalam melakukan identifikasi terhadap pasien sehingga mampu meningkatkan kemampuan komunikasi antara perawat dan dokter. Dokter lebih memperhatikan karena informasi yang ringkas, perawat bekerja lebih cepat dan mengkomunikasikan masalah dengan jelas serta dapat memberi kesempatan menyampaikan  saran kolaborasi.

 

b.      Isu-isu terkait SBAR

è Meskipun komunikasi SBAR di desain untuk komunikasi dalam situasi beresiko tinggi antara perawat dan dokter, teknik SBAR juga dapat digunakan untuk berbagai bentuk operan tugas, misalnya operan antara perawat.

è SBAR digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan komunikasi efektif saat serah terima informasi pasien yang berujung pada peningkatan patient safety.

è Keuntungan SBAR adalah kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif, dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat paham akan kondisi pasien, dan dapat memperbaiki komunikasi yang berujung pada perbaikan keamanan pasien

è Format pendokumentasian model SBAR untuk serah terima  antar shift

S (diagnosa medis dan masalah keperawatan)

B (sign and symptome dari masing-masing masalah keperawatan: data subjektif dan data objektif)

A (analisa dari data-data yang ada di background ( b ) sesuai masalah keperawatan dan mengacu kepada tujuan dan kriteria hasil masing-masing diagnosa  keperawatan)

R (intervensi mandiri/ kolaborasi  yang prioritas dikerjakan dan hal-hal khusus yang harus menjadi perhatian)

 

c.       Contoh penerapan SBAR

è S: Anak post op hari 1 dengan Craniotomi removal e.c Astrocitoma post pemasangan Vp Shunt

Masalah keperawatan :

         Gangguan perfusi jaringan Cerebral

         Tidak efektifnya bersihan jalan nafas

         Resiko infeksi

         Resiko gangguan keseimbangan cairan : kurang

è B: Ibu pasien mengatakan anak cendrung  tidur , ubun-ubun tampak cekung , refleks   menghisap kurang, tidak ada muntah .  Breast feeding hanya 20 ml. Feeding susu 8x 50ml. GCS;  E 3 M 5  V menangis,  pupil 2/2 reaksi positif, suhu 37.3°C, RR 24 x/mnt, Ronchi dikedua lapang paru,  HR 144x/mnt. BAB tidak ada, hasil PA belum ada. Sedang terpasang D5i/4 NaCl/12 jam. BB 5.8Kg

è A: Perfusi jaringan serebral belum adekuat pasen masih cenderung tidur. Tidak  ada tanda-tanda peningkatan TIK, slem masih banyak, batuk tidak efektif, tanda-tanda infeksi tidak ditemukan

è R: Monitor status neurologi dan tanda-tanda peningkatan TIK  Gunakan tehnik a/anti septic dalam merawat luka.

Observasi balance cairan

Kaji dan monitor status pernafasan

Follow up dan diskusikan hasil PA

 

2.      Analisis dari jurnal (jurnal terlampir) mengenai kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan

è Rumah sakit sebagai pemberi jasa pelayanan harus dapat memuaskan masyarakat sebagai pengguna jasa. Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator dalam menilai mutu pelayanan dirumah sakit. Pelayanan keperawatan merupakan bagian intekral dari pelayanan kesehatan dirumah sakit, kualitas pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan keperawatan sehingga perlu adanya peningkatan mutu pelayanan keperawatan dirumah sakit tersebut. Salah satu pelayanan keperawatan dirumah sakit adalah pelayanan prima merupakan suatu pelayanan professional, cepat, bersih, ramah dan pelayanan yang memberikan kepuasan bagi kesembuhan pasien. Harapan merupakan sesuatu yang individu inginkan untuk didapatkan atau dicapai. Harapan tinggi pasien dalam penelitian ini berhubungan dengan perilaku caring perawat. Perilaku perawat yang caring membuat pasien merasa dihargai, sehingga hal itu memberi kepuasan yang sesuai dengan harapan pasien.

è Dapat diambil kesimpulan bahwa Kualitas pelayanan dokter berpengaruh terhadap kepuasan pasien umum maupun pasien asuransi. Kualitas pelayanan perawat berpengaruh terhadap kepuasan pasien umum maupun pasien Asuransi. Kualitas pelayanan administrasi berpengaruh terhadap kepuasan pasien umum maupun pasien Asuransi. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pasien adalah pelayanan perawat pada pasien umum maupun pasien Asuransi. Sebaiknya dilakukan peningkatan keterampilan petugas dengan pelatihan atau pendidikan yang lebih tinggi, sehingga dapat memberikan pelayanan perawatan, pemeriksaan, dan pengobatan yang akurat dan cepat.

3.      Konsep Service Quality (Servqual) terhadap pelayanan keperawatan dan saran untuk peningkatan kualias pelayanan keperawatan

è Konsep dan hubungan: Menurut konsep service quality yang populer, ServQual dinyatakan bahwa kualitas pelayanan memiliki 5 dimensi, yaitu reliability, resposniveness, assurance, empathy, dan tangible. Service Quality adalah seberapa jauh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas layanan yang mereka terima. Service Quality dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas pelayanan menjadi hal utama yang diperhatikan serius oleh rumah sakit, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki rumah sakit. Rumah sakit/sarana pelayanan kesehatan lainnya, meskipun milik pemerintah, saat ini tidak lagi hanya bisa mengandalkan subsidi untuk menyokong berjalannya kegiatan operasional institusi. Dengan kata lain, ada upaya pemandirian dan pergeseran dari institusi non profit menjadi institusi profit (bisnis). Pelayanan kesehatan merupakan setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersamaan dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.

è Rekomendasi: . Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan standard dan kode etik profesi yang telah ditetapkan. Sampai saat ini, kepuasan pelanggan masih sangat relevan dengan kegiatan bisnis di mana pun. Logika sederhanya, bila pelanggan suatu institusi bisnis puas, maka akan semakin membaik pula kehidupan bisnis dan kehidupan keuangan di dalam institusi bisnis tersebut. Hal ini juga berlaku pada dunia bisnis kesehatan, bila pasien merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang diterimanya, maka akan semakin meningkat pula loyalitasnya untuk senantiasa menggunakan jasa layanan kesehatan tersebut Kepuasan sangat bersifat subjektif dan unik bagi setiap pelanggan, pasiaen yang merasa puas adalah mereka yang mendapatkan value dari pemberi layanan/pemasok/produsen suatu produk (barang/jasa).

Untuk dapat mewujudkan tercapainya pelayanan yang berkualitas diperlukan tenaga keperawatan yang profesional; memiliki kemampuan intelektual, teknikal, dan interpersonal, berdasarkan standar praktik; serta memperhatikan kaidah etik dan moral. Selain keselamatan pasien dan mutu pelayanan perawatan, ada faktor karir perawat yang sangat mempengaruhi pelayanan keperawatan tersebut. Semakin tinggi pendidikan perawat semakin jauh dengan pelayanan terhadap pasien, baik di rumah sakit maupun pada pelayanan komunitas. Dari hasil observasi masih dijumpai adanya perawat yang tidak peduli dengan keluhan yang disampaikan oleh pasien maupun keluarganya. Perawat dalam memberikan pelayanan perawatan belum banyak terpapar dengan kompetensi seperti yang akan mereka lakukan sesuai dengan tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja yang dimiliki. Pengembangan karir pada saat ini lebih menekankan pada posisi/jabatan, baik struktural maupun fungsional, sedangkan jenjang karir profesional berfokus pada pengembangan jenjang karir profesional yang sifatnya individual. Berlakunya sistem jenjang karir profesional memacu perawat untuk meningkatkan kualitas dirinya, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing, sehingga nanti diharapkan perawat dapat memberikan pelayanan yang lebih baik terhadap masyarakat.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://www.sanglahhospitalbali.com/v1/penelitian.php?ID=62

 

http://repository.unand.ac.id/19754/2/BAB%20I.pdf

 

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/17324

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17324/7/Cover.pdf

 

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-senanwiryo-5202-2-bab2.pdf

 

http://ugm.ac.id/id/berita/8489-karir.perawat.pengaruhi.mutu.pelayanan.keperawatan

EPIDEMIOLOGI DASAR TERAPAN

1.      Siapakah Kenneth J. Rothman? Dimanakah dia bekerja? Dan hal unik apa yang diajarkannya? Serta salah satu judul tulisan dan bukunya adalah?

Kenneth J. Rothman, Dr. PH , adalah wakil presiden untuk penelitian epidemiologi di RTI Solusi Kesehatan. Dr Rothman telah memfokuskan karirnya pada pengembangan dan pengajaran konsep dan metode penelitian epidemiologi, dan telah menulis atau turut menulis lebih dari 250 publikasi ilmiah. Penelitiannya telah berlangsung berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker, penyakit jantung, penyakit neurologis, cacat lahir, cedera, paparan lingkungan, dan efek samping dari agen farmasi . Dia adalah editor, asisten editor American Journal of Public Health, dan anggota dewan editorial New England Journal of Medicine dan dewan penasehat internasional The Lancet.

Dia adalah mantan presiden Society for Epidemiologi Research, seorang Fellow kehormatan dari American College of Epidemiology, dan Fellow dan mantan anggota dewan direksi dari Masyarakat Internasional untuk Pharmacoepidemiology. Ia menerima American Public Health Association Abraham Lilienfeld Award untuk tahun 2002, mengakui keunggulan dalam pengajaran epidemiologi selama kariernya.

Keunikannya adalah beliau mampu mengajarkan dan menunjukkan bahwa epidemiologi adalah dasar ilmu yang berkembang dan selalu melakukan penelitian agar dunia kesehatan semakin maju, metode pengajaran dan penggunaan epidemiologinya modern, lebih aplikatif, dan sangat membantu dalam penelitian yang dilakukan. Ia telah menulis dua buku teks epidemiologi banyak dibaca: Modern Epidemiologi (sekarang dalam edisi ketiga) dan Epidemiologi, Sebuah Pengantar (sekarang dalam edisi kedua).

 

2.      Kenneth rothman membahas istilah lain dari case-control study, uraikan tentang istilah tersebut, yaitu

a.       Nested case-control study

è Nested case control study atau studi kasus kontrol yang disarangkan merupakan suatu desain penelitian kasus kontrol yang disarankan dalam suatu studi kohort. Kita ketahui bahwa studi kohort memerlukan waktu yang lama untuk me-follow up suatu kasus dan tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar pula. Sehingga dianggap desain penelitian ini kurang efisien dan efektif untuk meneliti suatu kasus yang jarang terjadi. Namun Karena pengamatan kontinu & longitudinal, memiliki kekuatan yg andal utk meneliti masalah kesehatan yg makin meningkat.

è Nested case control menyajikan desain penelitian yang berbasis kohort dan memiliki kasus dan kontrol pula. Kelebihan dari desain ini adalah efisiensi biaya, dan juga pengamatan yang dilakukan secara continue dan longitudinal sehingga memiliki kekuatan untuk menjelaskan masalah kesehatan dan menerangkan hubungan dinamika antara faktor resiko dengan efeknya secara temporal dan dengan seefisien mungkin.

è Studi kasus kontrol yang menggunakan data historis dan data sewaktu, yakni data primer yang berasal dari studi kohor sebagai penelitian induk, disebut “nested case control study” atau “ambidirectional staudy”. Desain “nested case-control study” membutuhkan biaya dan upaya pengumpulan data yang lebih rendah daripada studi yang sepenuhnya menggunakan pendekatan kohor. Nested case control study” merupakan contoh sebuah desain studi yang menggunakan data campuran. Pada nested case-control study diidentifikasi kasus yang terjadi dari sebuah kohor. Data campuran adalah data yang dikumpulkan sebagian bera-sal dari masa lalu dan sebagian berasal dari waktu yang sama dengan waktu penelitian.

 

b.      Case-cohort study

è Penelitian Kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi analitik observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit.

è Ciri-Ciri Penelitian Kohort : Pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati atau tidak. Bisa bersifat retrospektif atau prospektif.

è Karakteristik penelitian Kohort: Bersifat observasional, Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat, Disebut sebagai studi insidens, Terdapat kelompok kontrol, Terdapat hipotesis spesifik, Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif, Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

 

3.      Hasil survey epidemiologis terhadap 35 orang penduduk yang pernah mengalami serangan jantung pertama kali pada usia tertentu, menghasilkan senarai angka dibawah ini:

69, 72, 50, 45, 52, 56, 54, 66, 58, 56, 43, 61, 69, 52, 63, 47, 59, 53, 67, 51, 45, 32, 36, 62, 68, 40, 53, 55, 38, 42, 75, 70, 69, 68, 74.

a.       Sajikanlah data diatas dalam bentuk grafik yang sesuai yang lebih mudah terbaca.

 

 

Umur

Jumlah

Umur

Jumlah

Umur

Jumlah

Umur

Jumlah

32

1

47

1

56

2

67

1

36

1

50

1

58

1

68

2

38

1

51

1

59

1

69

3

40

1

52

2

61

1

70

1

42

1

53

2

62

1

72

1

43

1

54

1

63

1

74

1

45

2

55

1

66

1

75

1

Total

35

 

b.      Apa kesimpulan dari grafik diatas?

è Kesimpulan: semakin tinggi usia maka semakin banyak yang terkena serangan jantung. Semakin menguatkan pernyataan bahwa makin tua usia makin sering terkena serangan jantung. Pada umur 69 tahun terdapat 3 orang yang mengalami serangan jantung.

 

ASURANSI KESEHATAN

SOAL:

è Keadaan: pasien mengharapkan pelayanan yan optimal walaupun menggunakan asuransi kesehatan. Pihak rumah sakit menghadapi batasan plafon biaya dan aturan rumah sakit. Hal tersebut kadang menyebabkan RS atau dokter tidak dapat memberikan pengobatan optimal karena adanya batasan dari perusahaan asuransi

è Pertanyaan: kebijakan dan langkah yang harus dilakukan agar pasien tetap mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai SOP tetapi RS juga tidak terbebani oleh batasan dari perusahaan asuransi. Menyangkur hal perawatan biasa sampai perawatan khusus (diagnostik canggih, intensif seperti ICU ICCU NICU)

 

JAWABAN:

è Perubahan pembiayaan pelayanan kesehatan yang terjadi mempengaruhi setiap hubungan seluruh pihak yang terkait yaitu pelaku, pembeli, dan konsumen pelayanan kesehatan. Setiap badan penyelenggara asuransi kesehatan dituntut selalu mengembangkan berbagai sistem pelayanan kesehatan, dengan tujuan memperoleh efisiensi dan mutu pelayanan kesehatan yang baik. Beragamnya besaran tarif rumah sakit di Indonesia memang menjadi kelemahan.

è Meningkatkan pelayanan rumah sakit sesuai  dengan standar pelayanan yang berorientasi pada pelayanan prima menjadi tugas pengambil kebijakan. Menganalisa masalah diatas serta melihat kondisi di lapangan maka sangatlah penting bagi pemegang kebijakan publik untuk melakukan evaluasi dan mencari solusi sehingga didapat kebijakan yang mengatasi masalah yang terjadi.

è Langkah awal yang ditempuh RS tersebut adalah menginformasikan kepada seluruh pekerja di RS (tenaga medis dan nonmedis) bahwa ada peluang yang cukup baik dalam bekerja sama dengan pihak asuransi terkait jika RS bisa mengambil peluang tersebut secara efektif dan baik, untuk itu pihak Manajemen RS meminta kesiapan dan kerjasama seluruh pekerja RS.

è Pihak RS menyatakan bahwa hal terpenting bagi RS adalah mengetahui bagaimana caranya untuk mengendalikan biaya dan menjaga mutu pelayanan agar sesuai dengan tarif yang dipaketkan oleh pihak asuransi sehingga tarif tersebut tetap memberikan keuntungan bagi RS, dokter dan pasien. Untuk itu RS membentuk suatu tim dalam RS (secara internal) yang bertugas untuk mempersiapkan dan mengawasi pelaksanaan pelayanan kesehaan bagi peserta asuransi. Tim tersebut telah melakukan simulasi pelayanan kesehatan dengan menggunakan tarif dari pihak asuransi sampai dilakukannya evaluasi terhadap simulasi tersebut. Tim tersebut sebelumnya telah dikirim untuk ikut pelatihan.

è Apa yang dilakukan Tim tersebut dan apa yang ditemui permasalahannya akan dibahas bersama kemudian ditindaklanjuti serta dicari solusi nyatanya agar pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi peserta asuransi ini dapat berjalan sesuai rencana persiapan sebelumnya.

è Tim internal tersebut juga mengawasi hal diagnosis yang diberikan dokter efektif sesuai dengan tarif yang tertera dalam paket pihak asuransi.

è Tindakan medis yang tarif dalri pihak asuransi tergolong minim disiasati dengan cara membuat clinical pathway dan rujukan berjenjang.

è Kemudian menghemat penggunaan obat dan alat medis habis pakai seperti benang. Yang paling penting, pengendalian itu tidak menurunkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.

è Selain itu sebaiknya pihak RS akan memperkuat sistem IT yang ada di RS untuk mempermudah RS memantau ketersediaan obat dan alat medis habis pakai. Pemantauan tersebut merupakan suatu langkah awal pengendalian mengenai program kesehatan peserta asuransi agar efektif dan sesuai harapan.

è Kebijakan seperti perbaikan dengan mempercepat proses pengadaan kebutuhan serta melakukan pendisiplinan bagi tenaga medik, pengaturan jadwal piket bagi dokter, perawat, apoteker beserta tenaga. Pendisiplinan pegawai yang diikuti dengan peningkatan pendapatan atau keterpenuhinya hak pegawai rumah sakit sebagai tenaga fungsional juga menjadi faktor penentu baikya pelayanan.

è Peraturan pegawai negeri sipil, khususnya pegawai fungsional dalam melakukan pekerjaannya harus di dukung oleh tunjangan fungsional dimana tunjangan ini adalah tunjangan yang khusus diberikan kepada pegawai yang bersentuhan langsung terhadap pelayanan masyarakat atau pegawai yang tidak menduduki jabatan struktural.

è Perlu segera dilakukannya analisa beban kerja untuk jabatan fungsional sehingga outputnya adalah perhitungan beban kerja dari masing-masing jabatan fungsional yang kemudian di konversi dengan tunjangan fungsional sehingga hak pegawai fungsional di lingkungan rumah sakit regional dapat terpenuhi dan akan memacu kerja dalam melakukan pelayanan.

è   Penegakan disiplin terhadap pegawai yang mangkir dari tugas. Penegakan disiplin dimulai dari kejelasan “hukuman dan hadiah” serta asas keadilan bagi semua pegawai rumah sakit. Asas kejelasan hukum serta keadilan ini sering sekali hanya menjadi “lips service” saja karena jika sudah menyangkut kerabat maka hukuman ini tidak berlaku.  Penting juga dibuat tim khusus yang di bentuk oleh pemerintah provinsi yang terdiri dari Badan Kepegawaian, Inspektorat serta dari rumah sakit regional sendiri agar tidak adanya strata pada penegakan disiplin.
DAFTAR PUSTAKA

 

Kemenkes. 2013, Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

_______2013, Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentan Jaminan Kesehatan Nasional, Republik Indonesia

Putri p, novana. 2013. Konsep pelayanan primer di era JKN. Direktorat  bina upaya kesehatan dasarDitjen bina upaya kesehatan Kemenkes RI : Jakarta.

Tridarwati, Sri Endang. BPJS Kesehatan. PT. ASKES : Jawa Tengah.

http://www.bpjs-kesehatan.go.id/statis-2-visidanmisi.html

http://www.bpjs-kesehatan.go.id/statis-6-landasanhukum.html

http://www.crmsindonesia.org/node/616

http://manajemen-pembiayaankesehatan.net/index.php/2012-01-31-09-41-22/93-pjj-monev-bpjs/1079-ii-a-telaah-pustaka

MANAJEMEN ASURANSI KESEHATAN

Soal dan Jawaban

1.      Undang-Undang di Indonesia sebagai dasar penyelenggaraan asuransi kesehatan konvensional dan asuransi sosial kesehatan adalah

è Demi terselenggaranya jaminan kesehatan nasional bagi masyarakat indonesia, maka pemerintah menetapkan undang-undang sebagai dasar hukum berjalannya asuransi kesehatan konvensional dan asuransi sosial kesehatan, hal tersebut dapat terlihat dari adanya landasan arah kebijakan nasional, yaitu:

          Pembukaan UUD 45 alinea kedua: Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat indonesia kedepan pintu gerbang kemerekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

          Alenia ke empat: Dibentuknya Pemerintah Negara Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

          Pasal 34 UUD 45:

1.  Fakir miskin dan ank-anak yang terlantar dipelihara oleh negara

2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial nasional bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

          Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

·         Undang-Undang nomor 40 tahun 2004 tentang SJSN

·         Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

·         PP Nomor 7 Tahun 2005 RPJMN 2004-2009

          Dalam Undang-Undang No 2/92 tentang asuransi disebutkan bahwa program asuransi sosial adalah program asuransi yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan suatu undang-undang, dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat.

          Peraturan presiden republik indonesia nomor 12 tahun 2013 tentang jaminan kesehatan.

          Dasar Hukum pertama dari Jaminan Sosial ini adalah UUD 1945 dan perubahannya tahun 2002, pasal 5, pasal 20, pasal 28, pasal 34.

          TAP MPR RI no X/MPR/2001 yang menugaskan kepada presiden RI untuk membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional.

          Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

è Secara umum program jaminan sosial meliputi jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian. Jaminan kesehatan diberikan pada seluruh warga negara yang telah membayar iuran atau iurannya dibayarkan oleh pemerintah. Pemanfaatan seseorang terhadap pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial budaya dan sosial ekonomi orang tersebut. Bila tingkat pendidikan, sosial budaya dan sosial ekonomi baik maka secara relatif pemanfaatan pelayanan kesehatan akan tinggi.

è Pada masa sekarang, pengaruh pelayanan kesehatan indonesia sagatlah besar, namun masih terdapat simpang siur mengenai sistem pembiayaan jaminan kesehatan tersebut yang berdampak pada pelayanan kesehatan. Indonesia merupakan negara berkembang yang masih mencari suatu sistem yang tepat dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam sistem pembiayaan kesehatan.  Pembiayaan kesehatan di Indonesia masih didominasi oleh masyarakat dan swasta karena kegagalan pemerintah dalam menyediakan suatu sistem pembiayaan kesehatan yang menjangkau seluruh warga negara Indonesia. Asuransi kesehatan merupakan sistem pembiayaan kesehatan yang paling tepat untuk dapat menjamin kelangsungan pemeliharaan kesehatan masyarakat. Pembiayaan sektor kesehatan mulai menjadi prioritas pembangunan. Pembiayaan kesehatan pada masa ini  tidak lagi sepenuhnya bersumber dari anggaran pemerintah tetapi juga dilakukan oleh sektor swasta yang ditandai dengan meningkatnya jumlah rumah sakit swasta yang didirikan di berbagai wilayah di Indonesia. Kebijakan pembiayaan kesehatan masyarakat tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali penuh pemerintahan pusat, seiringnya berjalannya sistem otonomi daerah, setiap daerah otonom berhak menentukan perencanaan sendiri pembangunan kesehatan di daerahnya.

è Lahirnya UU Nomor 40 tahun 2009 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional merupakan harapan baru bagi sistem pembiayaan kesehatan Indonesia dimasa yang akan datang. UU SJSN No. 40 Tahun 2004 menyebutkan bahwa  setiap warga negara berhak atas jaminan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Ini merupakan cikal bakal terbentuknya  Sistem Jaminan Sosial Nasional Bagi  seluruh rakyat Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian anggaran kesehatan seharusnya lebih bijak, Kementerian Kesehatan seharusnya menggunakan anggaran yang berbasis kebutuhan masyarakat Indonesia. Dimasa mendatang, pemerintah dalam menetapkan pembiayaan kesehatan bisa menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan di Indonesia dan menjamin terpenuhinya hak setiap warga negara untuk hidup sehat dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

 

2.      Program JKN untuk mencapai total coverage tahun 2019, yang harus dilakukan adalah:

a.       Oleh peserta atau penjamin:

Undang-Undang SJSN diamanatkan bahwa seluruh penduduk wajib menjadi peserta jaminan kesehatan termasuk WNA yang tinggal di Indonesia lebih dari enam bulan. Untuk menjadi peserta harus membayar iuran jaminan kesehatan.

Bagi yang mempunyai upah/gaji, besaran iuran berdasarkan persentase upah/gaji dibayar oleh pekerja dan Pemberi Kerja. Bagi yang tidak mempunyai gaji/upah besaran iurannya ditentukan dengan nilai nominal tertentu, sedangkan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu membayar iuran maka iurannya dibayari pemerintah.

Peserta berhak memperoleh identitas peserta dan memperoleh manfaat pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan.

Peserta wajib membayar iuran dan melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukan identitas peserta pada saat pindah domisili dan ataupindah kerja.

 

b.      BPJS Kesehatan: BPJS memperoleh dana operasinal untuk penyelenggaraan program yang bersumber dari Dana Jaminan Sosial dan/atau sumber lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan memperoleh hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program Jaminan Sosial dari DJSN setiap 6 (enam) bulan. BPJS memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya dalam bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh akuntan publik kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN. Pelaksanaan BPJS di bawah pengawasan lembaga eksternal dan internal. sebagai perusahaan asuransi (perantara) harus melakukan:

          Perangkuman risiko, kerugian ringan, probabilitas lebih kecil

          Menghitung biaya transakasi (muatan-pembebanan kepada premi)

          Membiayai Pelayanan kesehatan

          Melakukan pengumpulan premi (dihitung berdasarkan kerugian yang akan dialami).

          Membayar kerugian atau pelayanan

          Memungut dan mengumpulkan Iuran dari Peserta dan Pemberi Kerja

          Menerima bantuan Iuran dari Pemerintah

          Mengelola dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta

          Mengumpulkan dan mengelola data peserta program Jaminan Sosial

          Membayarkan Manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan program Jaminan Sosial

          Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan Program Jaminan Sosial kepada peserta dan masyarakat

 

c.       Pemberi pelayanan kesehatan: Dokter, dokter gigi, PPK 1, dan Rumah Sakit

Puskesmas dan jaringannya sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar akan dikontrak oleh BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar yang paripurna kepada peserta BPJS kesehatan. Selanjutnya puskesmas dan jaringannya akan mendapatkan pembayaran dari BPJS kesehatan dalam bentuk kapitasi, yaitu pembayaran sejumlah tertentu sesuai dengan jumlah peserta yang menjadi tanggungan yang  dilakukan di awal sebelum pemberian pelayanan kepada peserta. Dengan diterapkannnya sistem asuransi ini, maka akan terjadi prinsip saling mengawasi, terutama menyangkut mutu pelayanan yang diberikan.

Pelayanan kesehatan komprehensif berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pelayanan kebidanan, dan Pelayanan Kesehatan Darurat Medis, termasuk pelayanan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana dan pelayanan kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Fasilitas Kesehatan yang tidak memiliki sarana penunjang wajib membangun jejaring dengan sarana penunjang. Wajib Memberikan laporan pelayanan sesuai waktu dan jenis yang telah disepakati.

Pemberi pelayanan kesehatan berhak mendapatkan informasi tentang kepesertaan, prosedur pelayanan, pembayaran dan proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan; dan menerima pembayaran klaim atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari kerja sejak dokumen klaim diterima lengkap.

 

d.      Dewan pengawas pusat dan daerah:

Pengawasan internal BPJS dilakukan oleh Dewan Pengawas dan satuan pengawas internal. Pengawasan eksternal BPJS dilakukan oleh DJSN dan lembaga pengawas independen. DJSN melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program Jaminan Sosial. Peran serta pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan BPJS didaerah. Karena sebagian besar pelaksanaan BPJS ada di daerah. Merupakan tanggung jawab Menkes, dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan DJSN. Lembaga pengawas independen adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK mempunyai wewenang:

          Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;

          Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;

          Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;

          emberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu;

          Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;

          Memberikan dan/atau mencabut:

1.      izin usaha;

2.      izin orang perseorangan;

3.      efektifnya pernyataan pendaftaran;

4.      surat tanda terdaftar;

5.      persetujuan melakukan kegiatan usaha;

6.      pengesahan;

7.      persetujuan atau penetapan pembubaran; dan

8.      penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

 

3.      Sistem asuransi sosial kesehatan memakai pendekatan resiko yang dapat menjadi masalah, tetapi dapat diselesaikan.

a.       Moral Hazard merupakan kemungkinan terjadinya kerugian yang disebabkan karakter tertanggung cenderung tidak jujur (karakter dan tingkah laku individu tertanggung yang dapat menambah atau menimbulkan kemungkinan kerugian. Misalnya: Sikap tendensi untuk memperoleh keuntungan dalam asuransi. Moral hazard meningkat karena manajer dapat mengambil resiko tanpa membayar resiko premi yang lebih besar.

Mengatasinya:

          Para pemilik asuransi memikirkan pengambilan resiko dan masih dalam taraf rasional dengan memperhatikan dampak akhirnya.

          Mengidentifikasi dengan baik klaim asuransi yang diajukan

          Mematuhi semua aturan awal saat bekerja sama dengan suatu RS dalam menerapkan sistem asuransi

          mendesain kontrak untuk mengontrol moral hazard

b.      Fraud: Risiko fraud adalah risiko yang di alami oleh suatu perusahaan atau intuisi karena faktor terjadinya tindakan kecurangan yang di sengaja. Baik keugian materi maupun non materi. Perkembangan fraud adalah sejaln dengan semakin banyaknya aktifitas kehidupan.

Mengatasinya:

          Tingkatkan pengendalian interen yang terdapat pada perusahaan

           Lakukan seleksi pemilik asuransi secara tepat

          Tingkatkan keadaan internal audit department

          Imbalan memedai untuk seluruh pegawai

           Lakukan pembinaan rohani

          Buat kebijakan tertulis mengenai fair dealing

 

c.       Premi kapitasi yang tidak wajar: Tidak semua peserta akan mengalami kerugian atau kehilangan pada waktu yang sama ataupun pada waktu yang lain tetapi klaim yang diajukan oleh sebagian dari peserta asuransi ditanggung oleh seluruh peserta asuransi. Tetapi klaim tersebut haruslah wajar dan nyata sesuai keadaan.

Mengatasinya:

          Melakukan perhitungan premi dengan tepat (adequacy, reasonable, equity, competitiveness)

          Pihak asuransi menjamin benefit dan premi secara wajar

          Tentukan jenis pelayanan yang dicakup sesuai kesepakatan

          Menghitung angka ulitisasi untuk setiap jenis pelayanan yang dikapitasikan.

 

d.      Rujukan terstruktur: berfungsi untuk mengembangkan regionalisasi sistem rujukan di kabupaten dan meningkatkan jangkauan ke RS rujukan. Dapat menimbulkan masalah tidak meratanya tenaga kesehatan di daerah, dll.

Mengatasinya:

          Mengurangi keterbatasan sumberdaya di pelayanan dasar seperti sarana dan peralatan

          Mempersiapkan RSUD sebagai rumah sakit rujukan mampu PONEK

          Meningkatkan kerjasama tim antar level rujukan yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten, RSUD dan puskesmas.

          Melengkapi SOP

4.      Tujuan akhir jaminan kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan setinggi tingginya. Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di indonesia? Upaya yang harus dilakukan agar JKN tidak memberatkan keuangan negara?

è Kondisi saat ini: Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Kondisi umum kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Sementara itu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain ketersediaan dan mutu fasilitas pelayanan kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan dan manajemen kesehatan. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar, yaitu Puskesmas yang diperkuat dengan Puskesmas Pembantu dan Puskesmas keliling, telah didirikan di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Di negara kita mereka yang mempunyai penyakit diperkirakan 15% sedangkan yang merasa sehat atau tidak sakit adalah selebihnya atau 85%. Selama ini nampak bahwa perhatian yang lebih besar ditujukan kepada mereka yang sakit. Sedangkan mereka yang berada di antara sehat dan sakit tidak banyak mendapat upaya promosi. Untuk itu, dalam penyusunan prioritas anggaran, peletakan perhatian dan biaya sebesar 85 % seharusnya diberikan kepada 85% masyarakat sehat yang perlu mendapatkan upaya promosi kesehatan.

Dengan adanya tantangan seperti tersebut di atas maka diperlukan suatu perubahan paradigma dan konsep pembangunan kesehatan.

Kondisi bangsa kita masih jauh dari cita-cita nasional tersebut, tetapi hal tersebut dapat kita wujudkan dengan pembangunan yang merata pada semua sektor kesehatan yang mendukung hidup sehat masyarakat indonesia. Beberap hal yang dapat dilakukan dalam mencapai cita-cita tersebut:

          Promosi kesehatan, peningkatan vitalitas penduduk yang tidak sakit (85%) agar lebih tahan terhadap penyakit melalui olah raga, fitness dan vitamin.

          Pencegahan penyakit melalui imunisasi pada ibu hamil, bayi dan anak.

          Pencegahan pengendalian penanggulangan, pencemaran lingkungan serta perlindungan masyarakat terhadap pengaruh buruk (melalui perubahan perilaku).

          Memberi pengobatan bagi penduduk yang sakit, (15%) melalui pelayanan medis.

          Dokter, dokter gigi, perawat dan bidan dalam upaya kesehatan yang menekankan penyembuhan penyakit adalah sangat penting.

          Tenaga kesehatan yang menekankan masalah preventif dan promotif adalah sarjana kesehatan masyarakat yang juga sangat penting.

          Menguatkan dukungan peraturan perundang-undangan, kemampuan sumber daya manusia, standarisasi, penilaian hasil penelitian produk, pengawasan obat tradisional, kosmetik, produk terapetik/obat, obat asli Indonesia, dan sistem informasi.

è Upaya yang dilakukan dalam JKN agar tidak memberatkan keuangan negara:

          Melakukan peninjauan mengenai Besaran kapitasi dan CBG. besaran kapitasi (metode pembayaran untuk pelayanan kesehatan ketika penyedia layanan dibayar dalam jumlah tetap per pasien tanpa memerhatikan jumlah atau sifat layanan yang diberikan) dan besaran INACBG’s (sistem tarif yang mencakup seluruh jenis perawatan pasien) yang belum sesuai dengan harapan para tenaga kesehatan. pembayaran CBG (Case Based Groups) yang masih cenderung berpihak ke rumah sakit besar milik Kemenkes dan menyamakan besaran CBG untuk rumah sakit milik pemerintah dan milik swasta. Ini merupakan pembayaran yang tidak adil.

          Dalam Negara kesejahteraan, Negara bertanggung jawab untuk secara terus-menerus mengupayakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyatnya. Salah satu bentuknya ialah dengan menyelenggarakan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Penyelenggaraan program jaminan sosial dimaksud diserahkan kepada BPJS yang dibentuk dengan Undang-Undang.

          Lahirnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebagai perangkat institusional Negara dalam memberikan perlindungan sosial di bidang kesehatan sangat disambut baik. Diharapkan dengan BPJS, kelompok miskin yang selama ini tidak memiliki akses yang cukup terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, dengan adanya jaminan sosial kesehatan universitas, dapat memenuhi hak-hak mereka sebagai warga Negara. Intervensi Negara dalam bentuk kebijakan perlindungan sosial dalam bidang kesehatan merupakan langkah strategis yang dapat melahirkan efek ganda (multiflier effects) yakti kualitas kesehatan masyarakat yang semakin baik dan tercapainya kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Kami siap menjadi mitra terdepan pemerintah untuk mengembangkan dan memperkuat langkah kebijakan sosial.


DAFTAR PUSTAKA

 

 

 http://sjsn.menkokesra.go.id/dokumen/publikasi/buku_reformasi_sjsn_ind.pdf

 

http://www.smeru.or.id/report/workpaper/jamsosnas/Jamsosnasind.pdf

 

http://id.wikipedia.org/wiki/BPJS_Kesehatan

 

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/hasbulah/material/babiiintroduksiasuransikesehatanedited.pdf

 

Kemenkes. 2013, Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

 

http://ritnoeddi.blogspot.com/2011/12/rangkuman-manajemen-resiko.html

 

http://www.bpjs.info/beritabpjs/Orasi_Ilmiah_Masalah_Sosial_dan_Jaminan_Kesehatan_Masyarakat_dalam_Mewujudkan_Indonesia_Sejahtera_2025-5940/

 

ENDODONTIC PERFORATION REPAIR WITH LIGHT-CURED GLASS IONOMER (translate from Endodontic perforation repair with light-cured glass ionomer by Manal Farea,1 Adam Husein,2 Cornelis H Pameijer3)

Tujuan terapi endodontik adalah untuk debridemen jaringan pulpa seluruhnya, dengan membersihkan, membentuk, dan obturasi seluruh saluran akar, yang akan memberikan penghambat yang efektif untuk mencegah mikroorganisme dan produknya masuk ke jaringan  periodontal dan jaringan periapikal (Gutmann, 2002; Ingle dan Bakland, 2002). Perforasi endodontik terjadi karena adanya hubungan gigi dengan jaringan tersebut. Perforasi dapat disebabkan oleh kesalahan iatrogenik, proses resorpsi, atau karies dan dapat di diagnosis melalui perdarahan langsung, perdarahan tidak langsung dengan paper point, radiografi, dan apex locator (Alhadainy, 1994). Perforasi dapat diperbaiki dengan metode non-bedah atau bedah. Perbaikan secara bedah dapat dilakukan jika akses ke kanal memungkinkan (Saham dan NG, 2004).

Berbagai bahan telah digunakan untuk perbaikan perforasi, seperti zinc oxide dan eugenol-based cement (IRM dan EBA), mineral trioxide aggregate (MTA), amalgam, glass ionomer, gutta percha, calxium hydroxide saja, dan calxium hydroxide atau klorapercha N-O dilapisi amalgam atau gutta percha, hydroxiapatite dan plaster of paris (Alhadainy, 1994; Alhadainy and Himel 1994; Mittal et al, 1999).

Bahan ideal untuk perawatan perforasi endodontik harus bersifat nontoksik, tidak dapat diserap, radiopak, bakteriostatik atau bakterisid dan mudah diaplikasikan. Bahan tersebut juga harus menutup kebocoran mikro dengan rapat di lokasi perforasi. Dari yang disebutkan, MTA merupakan bahan yang paling cocok untuk perawatan perforasi (Pitt Ford, McKendry, 2002) karena memiliki banyak keuntungan. Namun, salah satu keterbatasan MTA adalah panjangnya setting time dan sulit digunakan. Bahan tersebut lebih mudah digunakan pada kavitas seperti box. Kekurangannya lagi pengguna yang potensial dan operator yang berpengalaman.

Di klinik ketika bahan ini tidak tersedia, dokter gigi harus menggunakan bahan lain untuk perforasi tersebut. Bahannya harus memiliki sifat dasar seperti biokompatibilitas, mampu menumpat gigi mengikuti struktur gigi dan mudah diaplikasikan.

Laporan kasus dengan dua kasus perbaikan perforasi dengan menggunakan light-cured glass ionomer. Evaluasi pasca operasi dilakukan setelah satu dan dua tahun.

 

Laporan Kasus Pertama

Seorang wanita 24 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Gigi Spesialis Universitas Sains Malaysia untuk pengobatan nyeri dan bengkak pada premolar kedua rahang atas kanan. Riwayat nyeri intermiten selama enam bulan setelah penambalan dengan resin komposit dan akhirnya dilakukan perawatan endodontik oleh dokter gigi sebelumnya. Namun, keluhannya tetap ada walaupun telah dilakukan perawatan endodontik.

Riwayat medisnya sebelumnya tidak ada masalah. Tidak ada kelainan ekstraoral. Secara intraoral pada gigi terdapat restorasi glass ionomer yang besar pada disto-oklusal yang meluas ke subgingival. Perkusi dan palpasi apikal positif, dan mobiliti kelas I. Periodontal probing di bagian distal gigi 6mm. Terdapat fistula bukal di attached gingiva antara gigi tersebut dan geraham pertama. Tes vitalitas tidak dilakukan karena gigi telah dilakukan perawatan saluran akar.

Secara radiografi terlihat perawatan endodontik yang buruk karena obturasi pada kanal tidak sempurna, terdapat gambaran radiolusen periapikal, pelebaran ligamen periodontal, kehilangan lamina dura pada bagian mesial dan kehilangan alveolar crest di bagian distal.

Diagnosis gagalnya perawatan saluran akar adalah periodontitis periapikal kronis dengan kemungkinan perforasi di bagian distal. Semua pilihan pengobatan diinfokan dan pasien memilih untuk mempertahankan gigi tersebut. Perawatan endodontik harus dilakukan kembali dengan menggunakan light-cured glass ionomer (GC Fuji Lining LC, GC, Jepang) ditawarkan kepada pasien dan pasien menyetujui rencana perawatan. Pasien diberitahukan bahwa bahan lebih cocok (MTA) untuk perbaikan perforasi tidak tersedia di klinik.

Pada kunjungan berikutnya, gigi diisolasi dengan rubber dam dan langkah pengobatan selanjutnya dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 2.5x (mikroskop Zeiss, Carl Zeiss, Jena, Jerman). Setelah membuang bahan restorasi, ditemukan perforasi di distal dengan lebar 3mm sampai ke dasar ruang pulpa, terlihat adanya perdarahan.

Pendarahan dihentikan dengan irigasi sodium hipoklorit 1% dan tekanan dengan kasa. Selanjutnya debris dan karies di daerah perforasi dibuang. Setelah diirigasi dengan air distilasi, daerah tersebut dikeringkan, kemudian dentin conditioner (GC Corporation, Tokyo, Jepang) diaplikasikan di dentin sekitar daerah perforasi dan didiamkan selama 10 detik, kemudian diirigasi dengan air distilasi selama lima detik dan dikeringkan dengan udara dan cotton pellet steril. Perforasi diperbaiki dengan menggunakan light-cured glass ionomer, GC Fuji Lining LC (GC, Jepang) sesuai instruksi. Bahan tersebut dicampur hingga konsistensi yang sesuai hingga mudah diaplikasikan, aplikasi menggunakan probe periodontal. Daerah perforasi diisi secara bertahap dari dasar hingga 2-3mm bahan menutupi daerah sekitar dentin dan kemudian disinari. Ketebalan akhir bahan sekitar 2mm. Bahan tidak menutupi orifis, kanal bukal dan palatal. Selanjutnya, dilakukan perawatan ulang saluran akar secara konvensional. Sisa bahan pengisi endodontik konvensional dibuang dengan menggunakan stainless steel 32mm # 2 dan # 3 Gates Glidden dan kloroform.

Kanal diirigasi dengan sodium hipoklorit 1% dan dikeringkan dengan paper point (Kerr Poin Absorbent, USA). Kalsium hidroksida (PD, Washington, USA) diaplikasikan sebagai obat intrakanal dengan kapas steril dan restorasi light-cured glass ionomer (Fuji II, GC, Jepang). Gigi dibentuk dan disesuaikan dengan kontak oklusal.

Setelah tiga bulan, pasien tidak merasakan adanya keluhan. Perkusi dan palpasi negatif, perforasi telah tertutup dan sembuh, kedalaman poket distal 3mm, dan mobilitas gigi berkurang. Dilakukan pemasangan rubber dam dan kemudian daerah perforasi diperiksa dengan membuang tambalan sementara. Perbaikan daerah perforasi dalam keadaan baik (pemeriksaan visual dan taktil) secara klinis tidak ada tanda kebocoran.

Perawatan saluran akar konvensional dilanjutkan dengan preparasi mekanik saluran akar menggunakan teknik step-back, dan diberikan kalsium hidroksida intrakanal. Obturasi selesai satu bulan kemudian dengan AH 26 dan gutta percha dengan teknik kondensasi lateral. Setahun setelah kunjungan pertama gigi tidak ada keluhan. Disarankan untuk pemeriksaan berkala tiap enam bulan dan perlunya pembuatan mahkota gigi.

Laporan Kasus Dua

Pasien laki-laki 23 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Klinik Gigi Spesialis Universitas Sains Malaysia untuk perawatan endodontik perforasi gigi molar kedua kiri rahang bawah. Pada kunjungan pertama pasien mengeluh adanya bengkak, gigi goyang dan sakit yang sedang hingga parah. Dia menyatakan bahwa perawatan endodontik yang dijalaninya belum selesai. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan. Intraoral, restorasi glass ionomer disto-oklusal gigi 37, karies di bagian distal, mobilitas kelas I-II, bengkak dan abses bukal dan lingual. Periodontal probing bagian lingual 5mm di seberang daerah bifurkasi. Sakit pada gigi saat di perkusi dan palpasi apikal. Tes vitalitas tidak dilakukan karena telah dilakukan perawatan endodontik sebelumnya.

Radiografi periapikal menunjukkan gambaran radiolusen pada daerah furkasi dan akar distal. Diagnosisnya adalah periodontitis periapikal akut disertai abses dengan perforasi di furkasi lingual. Semua pilihan perawatan diinformasikan kepada pasien dan diberitahukan mengenai kondisi dan prognosis terburuk. Namun, pasien tetap ingin dilakukan perawatan terhadap giginya, dan setuju untuk dilakukan perbaikan perforasi dengan light-cured glass ionomer, kemudian diikuti perawatan definitif endodontik dan restoratif. Pasien diberitahukan bahwa bahan lebih cocok (MTA) untuk perbaikan perforasi tidak tersedia di klinik.

Kondisi perawatan yang sama seperti dijelaskan dalam laporan kasus satu. Dibuat akses, kemudian dihilangkan restorasi dan karies, terlihat perforasi bundar dengan diameter sekitar 2mm pada kamar pulpa di bagian lingual gigi. Berbeda dengan kasus sebelumnya, perdarahan minim dan tidak terdapat karies. Dilakukan irigasi NaOCl 1% dan dengan spuit dan kasa steril untuk mencapai hemostasis. Kemudian diirigasi dengan air distilasi dan dikeringkan, daerah perforasi diberi bonding dentin (GC Corporation, Tokyo, Jepang) di sekitar dentin selama 10 detik, kemudian diirigasi dengan air distilasi selama 5 detik dan dikeringkan. Selanjutnya, perawatan daerah perforasi menggunakan light-cured glass ionomer (GC, Tokyo, Jepang). Daerah perforasi diisi bertahap disekeliling dentin 2-3mm kemudian disinari (Bludent LED, Plovdiv, Bulgaria). Ketebalan akhir bahan sekitar 2mm. Diperhatikan untuk tidak melibatkan daerah orifis saluran akar.

Selanjutnya, perawatan endodontik konvensional yang dilakukan dengan irigasi dengan sodium hipoklorit 1% dan dikeringkan dengan paper point. Kalsium hidroksida diletakkan di intrakanal dengan cotton pellet steril, dan aplikasi restorasi light-cured glass ionomer. Gigi disesuaikan dengan kontak oklusal.

Setelah tiga bulan pasien tidak merasakan adanya keluhan. Secara intraoral, perkusi dan palpasi negatif. Pembengkakan di bukal dan lingual berkurang dan mobiliti gigi <1mm. Probing periodontal di furkasi lingual adalah 3mm. Restorasi dihilangkan, pemeriksaan daerah perforasi (visual dan taktil) menunjukkan perforasi sudah tertutup tanpa adanya tanda kebocoran klinis(bau busuk).

Perawatan endodontik konvensional kemudian dilanjutkan dengan menggunakan teknik crown-down rotary. Preparasi saluran selesai sampai bur F3. Kalsium hidroksida diaplikasikan di intrakanal. Obturasi selesai satu bulan kemudian dengan AH 26, dan kondensasi lateral dengan gutta percha. Restorasinya terdiri dari amalgam post and core dan mahkota logam penuh. Satu tahun pascaoperasi pasien tidak merasakan adanya keluhan. Dua tahun setelah pengobatan, pasien tidak merasakan keluhan dan gigi dapat berfungsi secara normal. 

Diskusi

Menjaga gigi tetap alami penting untuk fungsi dan estetika. Terapi endodontik dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. Masalah teknis yang terjadi selama endodontik yaitu pengobatan perforasi dinding atau dasar kamar pulpa atau saluran akar selama penghilangan karies, selama preparasi kavitas, kanal dan debridement mekanis. Hal ini secara signifikan dapat mengganggu prognosis jangka panjang gigi (Breault et al, 2000).

Bahan untuk perbaikan perforasi harus berkontak baik dengan keras jaringan gigi dan jaringan lunak periodontal. Bahan ini dapat merusak hasil perawatan endodontik dengan efek samping secara lokal atau sistemik, baik melalui kontak langsung atau karena irigasi bahan kimia ke jaringan periodontal dan tulang alveolar (Breault et al, 2000).

Dalam laporan kasus ini, light-cured glass ionomer adalah alternatif pilihan pengganti MTA. Glass ionomer light-cured merupakan partikel kecil, hidrofilik, resin nonaqueous yang dikombinasikan dengan inisiator cahaya dan serbuk glass. Keuntungan dari bahan ini adalah tidak larut dalam cairan mulut, adhesif terhadap struktur gigi, kekuatan tinggi, dan bersifat ganda sebagai obat. Lightcured glass ionomer juga bersifat: penyusutan rendah, ekspansi termal rendah, dan adanya flouride release seperti glass ionomer biasa (Scherer, Dragoo, 1995; Dragoo, 1997).

Aplikasi klinis light-cured glass ionomer pada: lesi erosif pada pasien geriatri, resin sementasi pada alat prostodonti cekat, perbaikan porselen, base amalgam, bahan inti, dan restorasi untuk pasien anak (Scherer, Dragoo, 1995; Dragoo, 1997).

Dragoo (1997) menunjukkan secara klinis dan histologis sifat biokompatibilitas restoratif bahan ini. Pembentukan epitel dan jaringan ikat karena aplikasi light-cured glass ionomer ini merupakan kemampuan untuk mengembalikan gigi yang sebelumnya dianggap tidak bisa dipertahankan (Dragoo, 1997; Stock, NG, 2004). Dragoo (1997) secara klinis dan histologis menyatakan bahwa light-cured glass ionomer sangat biokompatibilitas untuk jaringan lunak dan keras. Sebagai manfaat tambahan, fluoride release light-cured glass ionomer dapat mempengaruhi reaksi biokimia produk bakteri plak melalui perubahan metabolisme karbohidrat (Scherer, Dragoo, 1995).

Hal ini berbeda dengan MTA yang memiliki setting time panjang dan memerlukan klinisi yang kompeten. Dari hal tersebut, dokter gigi dapat dengan mudah mengaplikasikan light-cured glass ionomer ini. Selain itu, penutupan dan ketahanan terhadap kebocoran mikro didapat dari ikatan kimia bahan di enamel dan dentin (Mount, Hume, 1998). Glass ionomer sebagai bahan gigi restoratif digunakan untuk perawatan abfraksi, resorpsi akar eksternal, dan perbaikan perforasi akar (Shuman, 1999, Silveira, Sachez-Ayala, 2008). Berdasarkan sifat biokompatibilitasnya, light-cured glass ionomer dapat menjadi bahan untuk perawatan perforasi endodontik, terutama ketika lebih bahan yang cocok seperti MTA tidak tersedia. Secara ekonomis glass ionomer lebih terjangkau dibanding MTA. Namun, sebaiknya dilakukan penelitian lebih banyak dan lebih lanjut tentang keberhasilan penggunaan bahan light-cured glass ionomer ini terhadap perawatan perbaikan perforasi endodontik.

ENDODONTIK

BAB I

PENDAHULUAN

 

Perawatan endodontik adalah bagian perawatan konservasi gigi yang bertujuan untuk mempertahankan gigi vital yang tereksponasi ataupun gigi nonvital selama mungkin di dalam rongga mulut agar tetap dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya. Fungsi utama gigi adalah sebagai alat pengunyah, selain itu juga mempunyai fungsi estetik dan fonetik. Hilangnya gigi karena pencabutan atau karena hal lain akan mengakibatkan terganggunya fungsi pengunyahan seperti mengunyah menjadi lama dan tidak bisa halus, fungsi estetik sperti wajah terlihat tua karena ompong, maupun gangguan fonetik misalnya kesulitan mengucapkan kata tertentu. Sekalipun gigi asli yang hilang dapat diganti dengan gigi palsu geligi tiruan, tetapi fungsinya tidak dapat menandingi gigi asli. Sedangkan yang sangat merugikan dan tidak mungkin tergantikan akibat hilangnya gigi ialah terjadinya resorbsi prosesus alveolaris yang dapat menyebabkan masalah dalam rehabilitasi proses pengunyahan.

Karies gigi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit pulpa dan periapikal. Penyakit pulpa dan periapikal tersebut merupakan indikasi dilakukannya perawatan endodontik karena dijaman sekarang pasien tetap ingin giginya dipertahankan di dalam rongga mulut. Kesembuhan jaringan periapikal setelah perawatan endodontik pada kasus kelainan periapikal merupakan hasil yang diharapkan baik oleh pasien maupun operator. Keberhasilan perawatan endodontik dan pemilihan perawatan endodontik pada penyakit pulpa dan periapikal pada dasarnya dapat dicapai setelah ditegakkannya diagnosa, untuk itu penegakan diagnosa merupakan hal yang penting dalam perawatan endodontik. Pada prinsipnya harus diketahui sampai sejauh mana derajat kerusakan pulpa dan apakah prosesnya sudah mencapai daerah periapikal

Penegakan diagnosa dilakukan melalui beberapa tahapan pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan subjektif dipusatkan pada informasi yang diberikan pasien menyangkut keluhan utama, penyakit giginya, dan penyakit sistemik pada pasien. Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan klinis yang dilakukan operator untuk melihat tanda dan gejala penyakit pulpa dan periapikal. Pemeriksaan penunjang seperti foto radiografik digunakan untuk melihat keadaan gigi yang tidak dapat terlihat oleh mata seperti kelainan periapikal agar hasilnya akurat dan diagnosa yang ditegakkan benar sehingga pemilihan rencana perawatan dan perawatan yang dilakukan dapat berjalan secara optimal dan menghasilkan prognosis yang baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 

Pasien yang dalam keadaan sakit akan memberikan informasi dan respon serba berlebihan. Pasien cenderung bingung dan cemas sehingga klinisi harus tetap berpegang pada prinsip dasar dan melakukan pendekatan sistematik agar didapatkan diagnosis yang tepat. Diagnosis merupakan suatu tindakan mempelajari dan mengidentifikasikan suatu penyakit agar dapat dibedakan dengan penyakit lainnya. Agar mendapatkan diagnosis yang tepat tersebut, klinisi harus mendapatkan informasi yang tepat dan banyak mengenai riwayat medis dan riwayat giginya dengan mengajukan pertanyaan mengenai riwayat, lokasi, keparahan, durasi, karakter dan stimuli yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri. Melakukan pemeriksaan visual pada wajah, jaringan keras dan lunak rongga mulut; melakukan pemeriksaan intraoral; melakukan pengetesan pada pulpa gigi, dan melakukan pemeriksaan penunjang (Torabinejad, 2010).

 

2.1 Pemeriksaan Subjektif

Pemeriksaan Subjektif dilakukan dengan menggali informasi sebanyak mungkin dari pasien meliputi keluhan utama (anamnesis), riwayat medis dan riwayat dental. Keluhan utama merupakan alasan spesifik mengapa pasien datang ke klinik atau rumah sakit, dicatat dalam bahas apa adanya menurut pasien yang nantinya merupakan dasar utama yang menyediakan informasi tentang gejala atau hal patoligis yang akan kita cari dalam pemeriksaan selanjutnya.

Riwayat medis pada perawatan endodontik secra spesifik tidak menjadi kontraindikasi hanya pada keadaan tertentu penyakit yang relevan dapat menjadi pertimbangan untuk dilakukannya perawatan endodontik seperti alergi, tendensi perdarahan, penyakit jantung, kelainan imun, atau pasien yang mengonsumsi obat yang terkait endokrin ataupun sistem saraf.

Riwayat penyakit dental merupakan langkah yang penting untuk menggali informasi terkait keluhan utama pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat penyakit, lokasi, keparahan, durasi, karakter dan stimulus yang menimbulkan nyeri. Nyeri yang timbul karena stimulus suhu dan menyebar, kemungkinan berasal dari pulpa. Nyeri pada saat makan atau mengunyah dan jelas batasnya kemungkinan berasal dari daerah periapikal. Faktor penting yang membentuk kualitas dan kuantitas nyeri adalah spontanitas, intensitas, dan durasinya. Seorang klinisi yang pandai akan mampu menetapkan diagnosis sementara melalui pemeriksaan subjektif, sedangkan pemeriksaan objektif dan radiografi digunakan untuk konfirmasi (Torabinejad, 2002). Sangat sakit biasanya belum lama dan membuat pasien cepat kedokter. Dapat disebabkan pulpitis irreversibel, periodontitis apikal akut atau abses. Rasa sakit ringan, atau sakit ringan sampai sedang atau sudah lama biasanya sudah lama diderita pasien dan tidak dapat dipakai sebagai tanda adanya penyakit pulpa. Spontanitas rasa sakit: Tanpa stimulus disebut spontan seperti pada pulpitis irreversibel. Kontinuitas rasa sakit: Rasa sakit tetap ada (kontinu) walaupun penyebabnya sudah tidak ada. Menandakan pulpa dalam keadaan vital, dan sakit yang kontinu disebut pulpitis irreversibel. Ketika pulpa sudah nekrotik, sakit yang kontinu terjadi akibat tekanan atau pemakaian gigi menandakan adanya kelainan periapikal

 

 

2.2 Pemerikasaan Objektif

Pemeriksan objektif merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh operator dengan berbagai metode. Yaitu:

  1.       Pemeriksaan Visual
  2.        Pemeriksaan Ekstraoral

Dilihat apakah ada pembengkakan atau perubahan warna. Seperti pembengkakan di rahang bawah daerah submandibular atau mandibular. Di rahang atas pembengkakan sampai di bawah mata akibat infeksi gigi kaninus. Selain itu perhatikan juga apakah ada pembengkakan kelenjar limfe.

  1.       Pemeriksaan Intraoral

Meliputi jaringan lunak atau gingiva, lidah, bibir apa ada kemerahan, pembengkakan fistel yang biasanya disebabkan gigi yang mengalami kelainan periapikal. Perubahan warna, kontur, dan tekstur gigi geligi, serta perhatikan kebersihan mulut pasien.

  1.       Tes Vitalitas Pulpa
  2.        Test Thermal.

Test termis (panas dan dingin) merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi vitalitas pulpa atau sesnsitivitas pulpa. Tes dingin dengan menggunakan batangan es, chloretil, dan air dingin. Penggunaan yang paling sering adalah dengan chloretil yang disemprotkan pada cotton pellet kemudian ditempelkan pada permukaan gigi yang karies yang telah dilakukan eskavasi terlebih dahulu, atau pada bukal dipertengahan mahkota. Apabila respon terhadap rangsang dingin positif menandakan bahwa pulpa gigi tersebut masih vital, sedangkan apabila gigi tersebut tidak merespon menandakan bahwa pulpa gigi dalam keadaan nonvital atau nekrosis.

Tes panas tidak dilakukan secara rutin, berguna jika ada keluhan pada gigi yang sulit dilokalisir. Respon yang hebat dan menetap merupakan indikasi dari pulpitis irreversibel. Tes panas dapat menggunakan air panas, burnisher, atau menggunakan gutta percha yang dipanaskan, bahan dan alat diletakkan pada kavitas yang sudah dikeringkan kemudian diangkat dan amati respon pasien.

  1.       Test Elektris

Alat yang digunakan yaitu EPT (Electic Pulp Test) merupakan alat pembantu dalam menentukan vitalitas gigi dengan menggunakan aliran listrik yang bertahap untuk mendapatkan respon dari pulpa. Angka yang ditunjukkan oleh alat tidak terlalu berperan.

  1.        Tes Sondasi

Sondasi dengan sonde dapat menunjukkan karies yang luas atau sekunder , terbukanya pulpa, fraktur mahkota dan restorasi yang rusak. Pada beberapa keadaan seperti karies besar di korona, sonde dapat memberikan bantuan yang memadai dalam menegakkan diagnosis. Hasil positif menandakan pulpa gigi yang masih vital.

  1.       Tes Anestesi

Berguna untuk menentukan gigi yang sakit ketika pasien tidak dapat melokalisir rasa sakit tersebut pada gigi yang tepat, pasien hanya menyataka sakitnya didaerah sekitar atau bagian tertentu. Dilakukan dengan anestesi blok pada salah satu sisi rahang, apabila rasa sakit hilang berarti menandakan bahwa gigiyang sakit berada pada sisi yang teranestesi, apabila tidak hilang berarti gigi yang sakit berada pada sisi yang tidak teranestesi.

  1.        Tes Kavitas

Tes ini biasanya dilakukan pada keadaan dentin sklerotik. Dilakukan dengan menggunakan bor kecepatan rendah tanpa menggunakan penfdingin, dilakukan pengeboran sampai daerah DEJ. Apabila memberikan rasa sakit menandakan bahwa pulpa masih dalam keadaan vital.

  1.       Tes Kelainan Periapikal
  2.        Tes Perkusi

Perkusi merupakan indikator yang baik keadaan periapikal. Respon yangpositif menandakan adanya inflamasi periapikal. Bedakan intensitas rasa sakitdengan melakukan perkusi gigi tetangganya yang normal atau respon positif yangdisebabkan inflamasi ligamen periapikal, karena adanya peradangan pulpayang berlanjut ke apikal dan meluas mengenai jaringan penyangga. Gigi diberi pukulan cepat dan tidak keras, dengan menggunakan tangkai suatu instrumen, untuk menentukan apakah gigi merasa sakit. Suatu responsensitif yang berbeda dari gigi disebelahnya, biasanya menunjukkan adanya periodontitis. Sering juga, arah pukulan harus diubah dari permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau lingual mahkota dan tiap bonjol dipukul dengan urutan berbeda. Akhirnya, sambil mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai rasa sakit gigi tertentu, klinisi akan memperoleh suatu respon yang lebih benar, bila pada waktu yang sama diperhatikan gerakan badan pasien, dan reflex respon rasa sakit.

  1.       Tes Palpasi

Palpasi dilakukan jika dicurigai ada pembengakakan, dapat terjadi intraoral atau ekstra oral. Abses dalam mulut terlihat sebagai pembengkakan dibagianlabial dari gigi yang biasanya sudah non vital.Tes sederhana ini dilakukan dengan ujung jari menggunakan tekanan ringanuntuk memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit. Meskipun sederhana,tetapi merupakan suatu tes yang penting.Bila ada pembengkakan tentukan hal berikut(1) apakah jaringan fluktuan dan cukup membesar untuk insisi dan drainase;(2) adanya, intensitas dan lokasi rasa sakit; (3) adanya dan lokasi adenopati dan(4) adanya krepitasi tulang.

 

  1.        Tes Tekan

Dilakukan dengan cara pasien menggigit ujung tangkai instrumen seperti kaca mulut atau dilakukan dengan cara memberikan tekanan dengan jari. Untuk mengetahui adanya fraktur atau kelainan pada periapikal.

  1.       Tes Kelainan Periodontal
  2.        Tes Mobilitas

Tes mobilitas digunakan untuk mengevaluasi integritas jaringan periodontal gigi. Tes ini terdiri menggerakkan gigi ke arah lateral dalam soketnya dengan menggunakan jari atau menggunakan tangkai dua instrument. Tujuan tes ini adalah untuk menentukan apakah gigi terikat kuat atau longgar pada soketnya. Jumlah gerakan menunjukkan kondisi periodonsium; makin besar gerakannya, makin jelek status periodontalnya. Demikian pula, tes untuk depresibilitas adalah dengan menggerakkan gigi ke arah vertikal dalam soketnya. Tes ini dapat dilakukan dengan jari atau instrumen. Bila terdapat depresibilitas, kemungkinan untuk mempertahankan gigi jelek dan tidak ada harapan. Mobilitas grade 1 adalah kecil dari 1 mm mobilitas grade 2 adalah gerakan gigi dalam jarak 1 mm, dan mobilitas grade 3  gerakan lebih besar dari 1 mm disertai arah vertikal.

 

  1.       Tes Transluminasi

Berguna untuk pemeriksaan gigi anterior yang nekrotik, menentukan gigi yang fraktur yang tidak terlihat pada foto ronsen, melihat fraktur vertikal, dan dapat digunakan untuk menentukan orifis. Caranya dengan menggunakan sinar (fiber otic, halogen, LED, dan pantulan kaca mulut)

 

2.3 Pemeriksaan Penunjang

Radiografi adalah salah satu alat klinis paling penting untuk menunjang diagnosis.Alat ini memungkinkan pemeriksaan visual struktur mulut yang tidak mungkin dapat dilihat dengan mata telanjang. Tanpa alat ini tidak mungkin dilakukan diagnosis, seleksi kasus, perawatan, dan evaluasi penyembuhan luka. Untuk dapat menggunakan radiograf dengan tepat, seorang klinisi harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat memberikan interpretasi secara tepat. Diperlukan suatu pengertian tentang anatomi normal dan anomalinya yang mendasarinya dan perubahan yang timbul yang disebabkan oleh usia, trauma, penyakit dan penyembuhan.

Pemeriksaan radiografik yaitu foto bitewing, periapikal dan panoramik diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa dalam mempertimbangkan jenis perawatan yang harus diberikan antara lain memberi evaluasi masalah :

  1.     Perluasan karies dan kedekatannya dengan pulpa.
  2.     Keadaan restorasi yang ada.
  3.     Ukuran dari keadaan ruang pulpa : Dentin sekunder, kalsifikasi, dan resorpsi interna
  4.     Akar : bentuk, resorpsi internal.
  5.     Apeks : kelainan periapeks seperti abses, kista, dan granuloma.
  6.     Tulang: melihat adanya rarefaction pada daerah periapikal atau bifurkasi, kehilangan lamina dura, dan keadaan membran periodontal.

 

BAB III

PEMBAHASAN

Perawatan endodontik adalah bagian perawatan konservasi gigi yang bertujuan untuk mempertahankan gigi vital yang tereksponasi ataupun gigi nonvital selama mungkin di dalam rongga mulut agar tetap dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya. Untuk melakukan pilihan perawatan dan keberhasilan perawatan harus ditegakkan diagnosa yang tepat untuk gigi tersebut. Diagnosa pada gigi tersebut melibatkan diagnosa untuk kelainan pulpa dan kelainan periapikalnya.

Penegakkan diagnosa meliputi bebrapa pemeriksaan. pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan subjektif, pemeriksaan objektif, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan subjektif dipusatkan pada informasi yang diberikan pasien menyangkut keluhan utama, penyakit giginya, dan penyakit sistemik pada pasien. Pemeriksaan objektif meliputi pemeriksaan klinis yang dilakukan operator untuk melihat tanda dan gejala penyakit pulpa dan periapikal. Pemeriksaan penunjang seperti foto radiografik digunakan untuk melihat keadaan gigi yang tidak dapat terlihat oleh mata seperti kelainan periapikal.

Pemeriksaan subjektif berpusat pada informasi yang didapatkan dari pasien. Berupa keluhan utama, riwayat medis, dan riwayat dental. Riwayat dental ditanyakan mengenai nyeri yang dirasakan oleh pasien, spontanitas nyeri, durasi nyeri, stimuli nyeri, dan faktor apa saja yang memberatkan dan meringankan sakit atau nyeri yang dirasakan pasien. Pemeriksaan ini menggunakan komunikasi yang baik yang dapat dimengerti oleh pasien sehingga hal ini sangat membantuk operator untuk menentukan diagnosa atau diagnosa sementara.

Pemeriksaan objektif meliputi banyak hal. Pemeriksaan vitalitas pulpa (tes thermis yaitu dingin dan panas, tes elektris, tes anestesi, tes sondasi dan tes kavitas) pemeriksaan tes ini apabila hasilnya positif manandakan bahwa pulpa masih dalam keadaan vital, apabila gigi tidak bereaksi atau pasien tidak merasakan sakit atau nyeri pada saat dilakukan tes ini maka dapat dinyatakan pulpa dalam keadaan nonvital (neksosis pulpa). Pulpa vital dalam diagnosanya dibagi menjadi dua yaitu pulpitis reversibel dan pulpitis irreversibel. Untuk membedakan kedua diagnosa pulpa vital ini pada pemeriksaan subjektif ditanyakan mengenakan nyeri spontanitas dan stimulus. Pada pemeriksaan vitalitas, apabila dilakukan tes seperti tes dingin, nyeri yang dirasakan pasien menetap atau tidak.

Pulpitis reversibel tidak mengalami nyeri yang spontan, muncul rasa sakit ketika adanya rangsangan seperti pada saat minum dingin, begitu rangsangan dihilangkan maka rasa nyeri atau sakitpun ikut hilang. Sedangkan pada pulpitis irreversibel nyeri yang dirasakan pasien dapat datang secara spontan atau tiba-tiba yang dapat menetap dan terus menerus dalam waktu yang lama, bertambah parah pada saat perubahan posisi badan, serta dapat mengganggu tidur.

Kelainan periapikal dapat ditetapkan dengan pemeriksaan periapikal yaitu tes palpasi, tes perkusi, dan tes tekan. Kelainan periapikal dapat bersifat akut dan kronis. Gigi dengan keluhan sakit yang tumpul, dalam waktu yang lama, dan terus menerus tergolong dalam sakit yang bersifat akut. Sedangkan nyeri yang cenderung datang hanya sesekali dan umumnya tidak menimbulkan gejala menandakan bahwa kelainan periapikal tersebut dalam keadaan kronis.

Kelainan periapikal yang meninmbulkan bengkak disekitar apeks atau sudah mungulnya jalan keluar (fistula) menandakan bahwa jaringan periapikal sudah berlanjut peradangannya hingga diagnosa periapikalnya dapat berubah menjadi abses periapikal yang juga dapat bersifat akut dan kronis. Untuk diagnosa periapikal tersebut dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu foto ronsen uttuk melihat keadaan periapikal yang tidak terlihat oleh mata.

Setelah semua pemeriksaan dilakukan secara baik, teliti, dan hati-hati maka diagnosa yang tepat dapat ditegakkan. Setelah diagnosa ditegakkan dapat dilakukan pemilihan rencana perawatan agar hasil perawatan endodontik dapat optimal sehingga  gigi tetap bertahan di dalam rongga mulut.

Pada umumnya dalam praktek klinik penilaian kesembuhan didasarkan pada penilaian klinik ditunjang dengan pemeriksaan radiografik (Virre 1991. Bennati dan Khojotia mengklasifikasikan kesembuhan/keberhasilan perawatan endodontik sebagai (a) sucessful, bila tidak ada keluhan pasien, gigi berfungsi baik, pemeriksaan klinik tidak ada kelainan, pemeriksaan radiografik ligamen periodontal intact baik; (b) acceptable, bila tidak ada keluhan pasien, gigi berfungsi baik, pemeriksaan klinik tidak ada kelainan, pemeriksaan radiografik penebalan ligamen periodontal dan gambaran radiolusen di periapikal; questionable, bila tidak ada keluhan pasien, gigi berfungsi baik, pemeriksaan klinik ada kelainan intra dan atau ekstra oral, pemeriksaan radiografik ada penebalan ligamen periodontal atau gambaran radiolusen di daerah periapikal; failing, bila ada keluhan pasien, gigi tidak dapat digunakan, pemeriksaan klinik terdapat kelainan intra dan atau ekstra oral, pemeriksaan radiografik terdapat gambaran radiolusen pada daerah periapikal.

Prosedur penatalaksanaan perawatan endodontik merupakan ruang lingkup pekerjaan para dokter gigi yang harus disadari bahwa pada setiap langkahnya akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan; Beberapa literatur terkini menyatakan tingkat keberhasilan perawatan saluran akar berkisar antara 39% – 96%, sedangkan literatur lama menyatakan hanya 31,3% – 44,8%. Peningkatan keberhasilan ini harus tetap dipertahankan bahkan sebisa mungkin ditingkatkan.

Keakuratan suatu penilaian kesembuhan tergantung ketelitian data yang diperoleh. Para peneliti masih mengembangkan penggunaan instrumen yang tidak invasif yang mampu menghasilkan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi daerah yang dievaluasi mendekati kondisi sesungguhnya terjadi pada hasil pemeriksaan morfofungsional/morfoanatomi sebagai penunjang pemeriksaan klinik. Pengembangan teknologi di bidang pencitraan (imaging) di bidang kedokteran gigi seperti cone beam computer tomography tiga dan empat dimensi, magnetic resonance imaging atau ultrasonografi perlu dan masih dalam upaya pengembangan. Para praktisi harus tetap mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran gigi termasuk konservasi gigi (life long learner) untuk meningkatkan kualitas perawatannya.

 BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

Keberhasilan dan pemilihan perawatan endodontik sangat bergantung dengan diagnosa yang tepat. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang baik dan benar dalam proses penegakkan diagnosa. Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan subjektif, objektif, dan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan subjektif meliputi keluhan utama pasien (anamnesis), riwayat medis pasien (kelainan sistemik), dan riwayat dental (gigi yang menjadi keluhan pasien). Pemeriksaan objektif terdiri dari tes vitalitas pulpa (tes thermal dingin dan panas, tes sondasi, tes elektris, tes kavitas, dan tes anestesi), tes untuk pemeriksaan jaringan periapikal dan periodontal serta keadaan lainnya (tes perkusi, tes palpasi, tes tekan, tes transluminasi, dan tes mobilitas). Pemeriksaan penunjang pada kedokteran gigi bisanya foto radiografik yaitu foto periapikal untuk melihat kelainan periapikal yang tidak dapat terdeteksi oleh mata.

 

4.2 Saran

Penegakkan diagnosis sangat bergantung dari kemampuan klinisi melakukan pemeriksaan baik pemeriksaan subjektif dan objektif. Selain itu klinisi juga harus mampu membaca hasil pemeriksaan penunjang yaitu radiografi untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Grossman LI. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Alih bahasa. Abyono R. Jakarta: EGC, 1995: 250-251.

Finn, S. B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th edition. Philadelphia : W. B. Saunders

Weine FS.Endodontic Therapy.6th Ed: St.Louis.CV Mosby Co, 2009:519-29

Walton RE, Torabinejad M. Principles and practice of endodontic. Philadelphia :W.B. Saunders Company, 2010 : p.65